Speechify dengan senang hati menyambut Dylan Field, pendiri dan CEO Figma, sebagai investor.
Desain selalu jadi fondasi Speechify dalam mengembangkan produk, dan timnya sudah lama memakai Figma. Kehadiran Dylan sangat berarti—sejak awal ia mendukung Speechify lewat masukan soal rekrutmen dan membangun perusahaan tahap awal.
Visi Bersama untuk Kreativitas yang Lebih Mudah Diakses
Dylan Field mendirikan Figma, platform desain kolaboratif real-time berbasis browser, dengan keyakinan bahwa alat kreatif harus mudah diakses, online, dan kolaboratif. Sejak awal, Figma menantang anggapan bahwa desain hanya untuk spesialis, dan mengajak desainer, engineer, penulis, serta tim produk untuk bekerja bersama dalam satu ruang kolaboratif.
Pendekatan Figma mengubah cara produk dibangun, memungkinkan tim di perusahaan seperti Airbnb, Microsoft, Netflix, Stripe, dan GitHub berdiskusi, mendesain, hingga meluncurkan produk bersama. Dengan desain berbasis browser dan kolaborasi sebagai inti, Figma menurunkan hambatan untuk ikut serta dan memperluas siapa saja yang bisa berkontribusi dalam proses kreatif.
Filosofi ini sangat selaras dengan misi Speechify.
Menurunkan Hambatan Kreativitas dengan Suara & AI
Salah satu gagasan utama yang lama dibawa Dylan Field adalah bahwa teknologi dan AI bisa mengurangi jarak antara ide dan wujud nyatanya. Dengan menurunkan hambatan dan menghilangkan kebutuhan akan alat khusus, makin banyak orang bisa terlibat dalam karya kreatif yang dulu hanya bisa diakses para ahli.
Prinsip itu sejalan dengan perkembangan Speechify. Dalam beberapa bulan terakhir, Speechify tumbuh menjadi platform utama untuk podcast, yang memungkinkan pengguna mengubah teks, dokumen, artikel, dan catatan menjadi audio langsung di aplikasi. Tiap bulan, ratusan ribu podcast dibuat di Speechify dan dibagikan di kelas, grup chat, dan platform sosial.
Podcast ini tidak dibuat oleh studio profesional, melainkan oleh mahasiswa, profesional, dan pengguna sehari-hari yang memakai Speechify untuk mengubah materi tertulis jadi audio untuk didengar saat belajar, di perjalanan, atau saat bekerja. Tidak perlu peralatan rekam, software editing, atau pengalaman produksi.
Fitur Voice Typing Dictation Speechify makin mengurangi hambatan dengan memungkinkan pengguna berbicara saat membuat esai, catatan, atau kerangka, yang kemudian bisa diubah jadi audio. Ini memudahkan perpindahan dari ide lisan ke tulisan lalu ke audio–tanpa perlu pindah aplikasi.
Sama seperti Figma membuktikan bahwa desain bukan hanya milik desainer, teknologi suara & AI kini membuat pembuatan audio makin terbuka bagi lebih banyak orang. Speechify terus mengembangkan alat yang memadukan membaca, menulis, dikte, dan pembuatan podcast ke dalam satu platform berbasis suara.
Desain, Suara, dan Masa Depan Alat Kreatif
Speechify menggabungkan teks ke suara, pembuatan podcast, pengetikan suara, dikte, dan Voice AI Assistant untuk membantu orang membaca, menulis, mendengar, dan berkreasi dengan lebih natural dalam keseharian. Desain yang matang membuat alat ini terasa intuitif, fleksibel, dan nyaman dipakai banyak kalangan.
Pandangan Dylan Field tentang kolaborasi, aksesibilitas, dan pemberdayaan kreatif sangat sejalan dengan arah Speechify saat suara & AI mengubah cara orang berkomunikasi dan berkreasi.
Speechify berterima kasih atas inspirasi, bimbingan awal, dan dukungan Dylan seiring platform ini terus memperluas kemungkinan saat alat hebat dirancang untuk semua orang.
