Judul Terbaik karya Sylvia Plath
Sylvia Plath adalah salah satu penyair Amerika paling berpengaruh abad ke-20. Tulisannya (bersama Anne Sexton dan Robert Lowell) dianggap sebagai puncak puisi pengakuan diri, karena berfokus pada individu, psikologinya, dan pengalaman batinnya.
Penulis ini menulis beberapa karya paling terkenalnya beberapa bulan sebelum ia meninggal. Sebagian diterbitkan secara anumerta dalam kumpulan puisi berjudul Ariel (Harper Perennial).
Artikel ini mengulas biografi Sylvia dan karya-karya terkenalnya secara lebih mendalam.
Biografi penulis
Sylvia Plath lahir di Boston, Massachusetts pada 27 Oktober 1932. Ia meninggal di London, Inggris, pada 11 Februari 1963. Sylvia juga dikenal dengan nama pena Victoria Lucas.
Karya Plath, khususnya puisi-puisinya yang populer, mengekspresikan rasa keterasingan dan kecenderungan merusak diri. Perasaan ini erat terkait pengalaman hidupnya dan situasi perempuan di Amerika pasca Perang Dunia II.
Plath berusia delapan tahun saat menerbitkan puisi pertamanya. Sejak SMA, ia memenangkan banyak lomba sastra. Puisinya dimuat di The Christian Science Monitor dan satu cerpen di Majalah Seventeen saat masih SMA.
Penulis ini menempuh pendidikan di Smith College. Tak lama setelah masuk, ia memenangkan lomba fiksi majalah wanita muda (Mademoiselle) fiksi tahun 1952. Ia berjaya secara akademis, seni, dan sosial sebelum penerbitan The Colossus and Other Poems, satu-satunya kumpulan puisinya yang terbit sebelum ia wafat.
Namun, Plath juga mengalami depresi berat dan beberapa kali mencoba bunuh diri. Ia bahkan sempat dirawat di rumah sakit jiwa.
Setelah lulus dari Smith College tahun 1955 dengan predikat tertinggi, Plath melanjutkan studi ke Newnham College di Cambridge dengan beasiswa Fulbright.
Ia menikah dengan Ted Hughes tahun 1956 dan memiliki dua anak, Frieda Hughes dan Nicolas Hughes. Pasangan ini berbulan madu di Paris tetapi berpisah setelah Hughes berselingkuh tahun 1962.
Kumpulan puisi Ariel Sylvia diulas di The New York Times, majalah Poetry dan berbagai media lain. The Collected Poems, terbit 1981, memenangi Pulitzer Prize kategori puisi tahun berikutnya. Plath jadi penulis pertama yang menerima penghargaan ini secara anumerta.
Plath bahkan mendapat film biografi sendiri dengan Gwyneth Paltrow sebagai pemeran utama.
Pada 2009, drama radionya, Three Women, untuk pertama kali dipentaskan secara profesional.
Banyak akademisi, penyair, dan kritikus sastra mencurahkan waktu untuk meneliti karya dan hidup Sylvia. Janet Malcolm dari The New Yorker menerbitkan studi atas buku-buku Plath berjudul The Silent Woman tahun 1995. Penulis biografinya, Anne Stevenson, menerbitkan A Life of Sylvia Plath tahun 1998.
Karya Penting Sylvia Plath
The Bell Jar—Novel
The Bell Jar adalah novel semi-autobiografi tentang Esther Greenwood yang berbakat, cantik, dan sukses, namun mengalami gangguan jiwa. Sylvia mengulik masalah Esther dengan sangat intens, membuatnya terasa amat nyata.
Kemampuan membedah sisi tergelap psikis membuat The Bell Jar menjadi salah satu klasik Amerika.
Johnny Panic and the Bible of Dreams
Kumpulan cerpen ini diterbitkan secara anumerta dengan total 15 cerita pendek. Beberapa yang terkenal antara lain:
- “Johnny Panic and the Bible of Dreams”
- “America! America!”
- “The Day Mr. Prescott Died”
- “The Wishing Box”
Letters Home
Ibu Plath, Aurelia Schober, menerbitkan kumpulan surat Plath berjudul Letters Home pada 1975. Semua surat ditujukan kepada sang ibu sejak Sylvia kuliah di Smith College.
The Letters of Sylvia Plath
Disunting Peter K. Steinberg dan Karen V. Kukil, The Letters of Sylvia Plath diterbitkan setelah Plath meninggal. Dua jilid surat-menyurat ini merekam awal kelahiran banyak puisi, jurnalisme, dan cerpen sang penulis.
The Unabridged Journals of Sylvia Plath
The Unabridged Journals of Sylvia Plath adalah transkrip asli jurnal Plath selama 12 tahun. Jurnal ini menunjukkan intensitas pergulatan harian Sylvia dan memberi perspektif baru atas keputusasaannya.
“Lady Lazarus”
“Lady Lazarus” adalah salah satu puisi terbaik Sylvia. Ia menghubungkan Lazarus—yang dibangkitkan Yesus menurut Perjanjian Baru—dengan percobaan bunuh dirinya. Salah satu kutipannya yang terkenal yaitu, “mati itu seni.”
“Daddy”
Puisi “Daddy” penuh dengan referensi Holocaust, namun sangat pribadi dan otobiografis, menceritakan hubungan penulis dengan ayahnya.
“The Moon and the Yew Tree”
Puisi mencekam ini menggambarkan ibu Plath sebagai bulan dan ayahnya sebagai pohon yew. Puisi melankolis ini ditulis saat Plath kesulitan memotivasi diri untuk menulis tiap hari.
“Winter Trees”
Sekilas, puisi ini berkisah tentang keindahan tanaman. Nyatanya, puisi ini merekam penderitaan dan sakit yang dialami Plath sepanjang hidup.
“You’re”
“You’re” salah satu puisi paling optimistis karya Plath. Ia menulisnya saat sedang hamil anak perempuannya, Frieda.
“Morning Song”
Dalam “Morning Song", seorang ibu merawat bayinya. Puisi otobiografis ini mencerminkan perasaan Plath saat berkali-kali bangun malam untuk anaknya yang menangis.
Ariel
Puisi-puisi di Ariel berbeda dari karya sebelumnya. Lebih menukik ke ranah pribadi dan jelas terinspirasi Robert Lowell.
Crossing the Water
Crossing the Water adalah salah satu kumpulan puisi Plath yang terbit pasca wafatnya. Menyebrangi air merujuk pada batas Kanada–AS, sekaligus menyimbolkan batas hidup dan mati.
Dengarkan The Bell Jar dan klasik lainnya di Speechify
Speechify Audiobooks adalah layanan premium dengan perpustakaan berisi lebih dari 60.000 judul berbahasa Inggris dan bahasa lain. The Bell Jar dan banyak klasik lainnya bisa dinikmati di platform yang simpel dan kaya fitur.
Pendengar bisa mengatur playback dan menyimak buku audio hingga kecepatan 4,5x. Anda pun dapat mengunggah file sendiri untuk didengarkan sebagai audiobook.
Yang terbaik—Anda bisa coba Speechify gratis hari ini. Info lengkap dan pendaftaran layanan ada di halaman resmi.
FAQ
Berapa usia Sylvia Plath saat meninggal?
Sylvia Plath berusia 30 tahun saat ia meninggal.
Apa puisi paling sedih karya Sylvia Plath?
“Poppies in October” mungkin puisi paling sedih yang ditulis Sylvia Plath, mengingat temanya dan fakta bahwa ini adalah puisi terakhir yang ia karang sebelum wafat.
Siapa cinta Sylvia Plath?
Sylvia Plath jatuh cinta pada penyair Ted Hughes. Mereka menikah dan punya dua anak. Sebagai mahasiswa, Sylvia mengagumi penyair Wales, Dylan Thomas. Salah satu mantan pacarnya bilang Sylvia sangat mengidolakan Dylan.
Apa pekerjaan ayah Sylvia Plath?
Otto Plath adalah penulis, ahli biologi, dan akademisi. Ia mengajar biologi dan bahasa Jerman di Boston University. Ia juga ahli entomologi spesialis lebah.
Apa arti “Ariel” karya Sylvia Plath?
Dalam “Ariel”, puisi metaforis, Plath menggambarkan pengalamannya saat menunggang kuda yang menakutkan. Setelah Sylvia meninggal, suaminya menyebut nama kudanya Ariel.

