A Court of Thorns and Roses ulasan buku
Kisah klasik Beauty and the Beast memikat jutaan pembaca di seluruh dunia. Cerita ini telah diadaptasi dalam berbagai bentuk, seperti buku dan film. Sarah J. Maas meniupkan napas baru ke dalam dongeng klasik yang dicintai ini lewat penafsiran kreatif dalam A Court of Thorns and Roses.
Sarah J. Maas adalah New York Times best-selling penulis yang bukunya dipuji banyak media dan telah terjual jutaan kopi di seluruh dunia. Ia paling dikenal lewat seri The Throne of Glass, A Court of Thorns and Roses (ACOTAR), dan Crescent City.
Terus baca untuk tahu apakah buku ini pantas masuk daftar bacaan Anda berikutnya.
Tentang apa A Court of Thorns and Roses?
Walau Beauty and the Beast sering dianggap cerita anak-anak, A Court of Thorns and Roses lebih pas disebut novel remaja daripada buku anak-anak.
Ceritanya mengikuti Feyre, gadis muda yang kuat dan gigih, serta Tamlin, High Lord para Faerie yang dikutuk, dalam petualangan romantis di tengah ancaman perang antara manusia dan kaum fae.
Buku pertama dimulai dengan Feyre, seorang gadis miskin yang harus berburu demi keluarganya. Suatu hari, tanpa sengaja ia membunuh seorang faerie yang menyamar jadi serigala. Kejadian ini memicu serangkaian peristiwa yang membuatnya terkena kutukan dan dibawa ke dunia faerie Prythian dan Spring Court. Dunia faerie dan manusia dipisahkan tembok selama 500 tahun setelah perjanjian damai mengakhiri perang berdarah.
Di sana, Feyre bertemu Tamlin, High Lord para Faerie sekaligus cinta utama di buku ini. Awalnya Feyre membenci Tamlin karena kekuatan sihirnya dan fakta bahwa dia adalah fae, tapi perlahan Feyre mulai percaya, dan hubungan mereka berkembang jadi percintaan yang penuh kehati-hatian.
Feyre juga harus menghadapi musuh misterius yang ingin menghancurkan perdamaian antara manusia dan fae. Namun, identitas musuh ini baru terungkap di buku kedua, A Court of Mist and Fury (ACOMAF).
Selain tokoh utama, ada beberapa karakter warna-warni termasuk Lucien (sahabat Tamlin dan utusan Spring Court), Amarantha (High Queen Prythian yang mengaku sendiri), serta Rhysand atau Rhys (High Lord Night Court). Semua karakter terasa hidup dan menarik, dengan motivasi kompleks dan humor yang khas.
Antara 2015 hingga 2021, lima buku dalam seri ACOTAR sudah diterbitkan:
- A Court of Thorns and Roses (ACOTAR)
- A Court of Mist and Fury (ACOMAF)
- A Court of Wings and Ruin (ACOWAR)
- A Court of Frost and Starlight (novella)
- A Court of Silver Flames (ACOSF)
Dengan kepiawaiannya, Maas menghadirkan kisah romantis dan memikat di A Court of Thorns and Roses. Novel ini memenangkan beberapa penghargaan, seperti Goodreads Choice Award untuk Best Young Adult Fantasy & Science Fiction tahun 2015, 2016, dan 2017, serta Dragon Awards untuk Best Young Adult/Middle-Grade Novel tahun 2017.
A Court of Thorns and Roses—Ulasan kami
A Court of Thorns and Roses penuh momen menegangkan dan keindahan yang tenang. Gaya menulis Maas deskriptif dan indah, membuat dunia Prythian terasa hidup.
Awalnya memang mengikuti kisah klasik Beauty and the Beast, tapi akhirnya menghadirkan kejutan menarik yang menegangkan. Kami berusaha agar ulasan ini tanpa spoiler, tapi yakinlah jika buku pertama berhasil memikat Anda, Anda pasti ingin lanjut ke buku berikutnya.
Karakter Feyre dan Tamlin kompleks dan dinamis, memberi pembaca emosi beragam saat mereka menjalani hubungan. Mereka terasa nyata, lengkap dengan kepribadian, kelebihan dan kelemahan.
Feyre sangat mandiri dan setia, sementara Tamlin penyayang dan penuh empati. Hubungan mereka intens, dan adegan romantis di antara keduanya terasa lembut setidaknya di paruh awal buku. Di bagian kedua, suasananya lebih panas meski tidak eksplisit.
Secara keseluruhan, A Court of Thorns and Roses adalah kisah romantis dan memikat yang sulit ditinggalkan. Gaya penulisan Maas hidup dan menggugah, para tokohnya dinamis dan seru. Dunia yang dibangun sangat mendalam. Ceritanya juga menyentuh soal loyalitas, pengorbanan, dan harapan di tengah kesulitan.
Kadang novel ini cukup lama dalam mendeskripsikan dunia dan latarnya. Pecinta lore akan suka, tapi mungkin bukan untuk semua orang. Ceritanya tidak sangat penuh aksi maupun terlalu panas. ACOTAR cukup mudah diikuti, mengisi ceruk tersendiri, dan bisa dinikmati berbagai kalangan selama tahu ekspektasinya. Penggemar fantasi pasti akan senang membaca dan mengulang seri ini.
Perlu diketahui ada lima buku di seri ini, tapi satu berupa novella (A Court of Frost and Starlight), dan buku terakhir berfokus pada adik Feyre, Nesta.
Dengarkan A Court of Thorns and Roses di Speechify Audiobooks
Jika Anda mencari kisah romantis menegangkan dengan pesan indah, A Court of Thorns and Roses wajib dibaca. Dan jika ingin cara paling praktis menikmati cerita ini dan banyak novel fantasi populer lain, Speechify Audiobooks adalah aplikasi yang tepat.
Speechify Audiobooks menawarkan banyak buku audio, termasuk A Court of Thorns and Roses dan berbagai buku fantasi terlaris lainnya. Pengguna baru dapat mendengarkan novel di mana saja plus fitur seperti kecepatan putar variabel dan sinkronisasi otomatis di seluruh perangkat.
Yang terbaik, layanannya cukup terjangkau dan tidak menguras dompet. Jadi, dapatkan A Court of Thorns and Roses di Speechify dan rasakan dunia fae serta kisah cinta yang memikat.
FAQ
Apakah seri A Court of Thorns and Roses layak dibaca?
Ya, seri A Court of Thorns and Roses layak dibaca jika Anda penggemar fantasi, dongeng, atau roman. Kisahnya seru, romantis, dengan karakter yang hidup.
Apakah A Court of Thorns and Roses termasuk novel dewasa?
Seri ACOTAR tidak terlalu panas, tapi ada beberapa adegan romantis antara Feyre dan Tamlin. Buku ini ditujukan untuk pembaca dewasa karena temanya lebih cocok buat pembaca dewasa muda.
Apakah A Court of Mist and Fury tidak pantas?
A Court of Mist and Fury (ACOMAF) memang berisi konten dewasa saat Feyre masuk Night Court setelah ujiannya di Bawah Gunung. Ada adegan eksplisit dan referensi kekerasan masa lalu, jadi bijaklah saat membacanya.

