1. Beranda
  2. VoiceOver
  3. Iklan Politik AI: Kampanye Politik Berbasis AI Kini Hadir & Meningkat
Dipublikasikan pada VoiceOver

Iklan Politik AI: Kampanye Politik Berbasis AI Kini Hadir & Meningkat

Cliff Weitzman

Cliff Weitzman

CEO/Pendiri Speechify

#1 Generator Voice Over AI.
Buat rekaman suara seperti manusia
secara real time.

apple logoApple Design Award 2025
50J+ pengguna

Kecerdasan buatan (AI) kini telah menjadi unsur krusial dalam kampanye politik modern, mengubah cara politisi menjangkau pemilih dan merangkai narasi. Konten berbasis AI, terutama iklan politik, telah mengubah strategi kampanye, mendorong regulasi baru, dan memicu perdebatan tentang efektivitas serta etika penggunaannya. Pelajari segala hal tentang iklan politik AI dan bahkan cara membuatnya sendiri.

Penggunaan AI yang menonjol dalam kampanye politik mulai muncul satu dekade terakhir, dan meningkat drastis dalam beberapa tahun belakangan. Politisi dan partai kini memakai alat AI seperti chatbot untuk interaksi publik, konten AI untuk membuat iklan kampanye yang efektif, serta algoritma machine learning untuk menarget pemilih. ChatGPT, model bahasa dari OpenAI, juga telah dimanfaatkan untuk merancang strategi komunikasi.

Iklan Politik AI di Berita

Salah satu momen penting dalam sejarah iklan politik berbasis AI terjadi bulan lalu ketika Komite Nasional Republik (RNC) menggunakan AI generatif untuk memproduksi iklan serangan terhadap Gubernur Demokrat Florida, Ron DeSantis. Iklan menampilkan gambar AI DeSantis dalam situasi kurang menguntungkan, memicu kontroversi dan pertanyaan mengenai penggunaan AI dalam kampanye politik. Forbes memberitakan tentang Never Back Down, super PAC di balik iklan AI ini.

Dengan semakin meratanya penggunaan AI dalam kampanye dan iklan politik di AS, pembuat kebijakan menanggapi lewat regulasi untuk mengatur ranah baru ini. AI Disclosure Act 2023, digagas Yvette Clarke (D-N.Y.), mewajibkan setiap konten berbasis AI, termasuk iklan politik, mencantumkan penjelasan bahwa konten ini dibuat oleh AI. Aturan ini dinilai penting untuk melawan misinformasi dan disinformasi dari deepfake, gambar palsu, dan konten AI lain yang bisa menyesatkan pemilih.

AI di Luar Iklan dalam Kampanye Politik

Kebanyakan orang mengidentikkan AI dengan media visual atau audio. Sering kali kampanye menggunakan AI untuk menulis naskah dengan cepat, atau menggunakan text to speech untuk membuat AI voice over atau bahkan video. Namun, partai politik telah lama menggunakan AI untuk data dan riset, jauh sebelum ChatGPT dikenal luas.

AI telah mengubah lanskap kampanye politik, memberi cara baru bagi politisi menjangkau pemilih, mempersonalisasi pesan, dan menyusun strategi. Berikut cara AI digunakan dalam kampanye politik:

  1. Segmentasi & Penargetan Pemilih: AI menganalisis data besar pemilih — dari demografi, preferensi politik, pola voting, hingga aktivitas media sosial. Ini memungkinkan kampanye membagi pemilih ke segmen spesifik dan menyesuaikan pesan sesuai kebutuhan.
  2. Analisis Media Sosial: Alat AI dipakai untuk memantau tren, analisis sentimen, dan reaksi publik atas isu. Ini membantu politisi memahami isu terpenting bagi pemilih dan merespons lebih proaktif.
  3. Chatbot: Chatbot berbasis AI sangat efektif untuk kampanye. Mereka bisa berinteraksi dengan jutaan orang secara bersamaan, menjawab pertanyaan, memberi info, bahkan mengajak orang memilih.
  4. Konten AI: AI generatif dapat membuat berbagai konten seperti pidato, siaran pers, hingga posting media sosial. Konten bisa disesuaikan untuk beragam segmen demi meningkatkan efektivitas pesan kampanye.
  5. Analitik Prediktif: AI dipakai untuk memprediksi hasil pemilu berdasar tren dan data historis, sehingga strategi bisa langsung disesuaikan.
  6. Deepfake & Media Sintetis: Meski etis dipertanyakan, ada yang memakai AI untuk buat video deepfake atau media sintetis demi mendukung kandidat atau menyerang lawan.
  7. Otomasi Tugas: AI mengotomasi tugas berulang seperti email kampanye, jadwal posting medsos, hingga telepon penggalangan dana. Ini menghemat waktu dan biaya.
  8. Deteksi Disinformasi: AI membantu mengidentifikasi dan melawan kampanye disinformasi, masalah besar di era politik digital saat ini.

Secara keseluruhan, AI kini menjadi alat penting dalam kampanye politik modern. Namun, muncul pula tantangan etika dan hukum baru yang perlu dijawab demi menjaga integritas proses politik.

Cara Mengenali Iklan Politik AI atau Deepfake

Mengenali iklan politik buatan AI tidak mudah karena kemajuan teknologi AI, tapi ada beberapa cara untuk membedakannya:

  1. Pengungkapan AI: Menyikapi maraknya konten AI, aturan seperti AI Disclosure Act 2023 di AS mewajibkan keterangan pada konten AI. Jika iklan mematuhi, akan diberi label jelas sebagai buatan AI.
  2. Kualitas Hasil: Walau makin canggih, AI belum sempurna. Sering kali menghasilkan pola bahasa aneh atau visual tak wajar. Misalnya, untuk video deepfake, bisa saja sinkronisasi bibir, kedipan, atau pencahayaan kurang pas.
  3. Kurangnya Konteks atau Alur Logis: Konten AI kadang gagal memberi alur atau konteks jelas. Jika isinya terasa acak atau tidak nyambung, bisa jadi itu buatan AI.
  4. Frasa Umum & Pengulangan: AI sering memakai frasa umum atau mengulang kata/tema berlebihan dibanding pembicara manusia.
  5. Cek Fakta: AI tidak selalu benar secara fakta. Jika ditemukan data meragukan di iklan, bisa jadi itu produk AI.
  6. Pencarian Gambar/Video Balik: Visual AI kadang tak sesuai kejadian nyata. Reverse image atau video search dapat menunjukkan apakah gambar itu asli atau buatan.
  7. Alat Deteksi AI: Ada banyak alat online dan software yang bisa mengidentifikasi konten AI, termasuk deepfake. Alat ini bisa digunakan untuk mengonfirmasi keaslian konten.

Ingat, tidak ada cara yang benar-benar ampuh. Biasanya metode-metode di atas harus digabungkan. Penting untuk selalu kritis melihat iklan politik, mempertimbangkan sumbernya, dan cek silang informasi jika memungkinkan.

Regulasi AI untuk Kampanye Politik

AI Disclosure Act 2023

AI Disclosure Act 2023 adalah regulasi penting di Amerika Serikat yang bertujuan mengatur penggunaan kecerdasan buatan (AI) di berbagai bidang, termasuk iklan politik. Undang-undang ini dibuat karena kekhawatiran makin banyaknya konten buatan AI, seperti deepfake dan media sintetis, yang bisa menyebar hoaks dan misinformasi.

Aturan utama AI Disclosure Act adalah keharusan label jelas pada konten buatan AI. Artinya, semua konten — termasuk iklan politik — yang memakai teknologi AI harus mengindikasikan secara jelas asal-usul AI-nya. Tujuannya agar masyarakat dan pemilih dapat mengambil keputusan berdasar pengetahuan apakah konten bersifat buatan manusia atau AI.

Aturan ini menjadi langkah penting untuk mendorong transparansi dan akuntabilitas penggunaan AI. Ini memberi kerangka hukum untuk isu etika dan sosial akibat perkembangan AI.

AI for All Act

Regulasi lainnya adalah AI for All Act, didukung bipartisan, yang bertujuan meratakan akses teknologi AI dan mengatasi kesenjangan digital agar semua warga AS bisa merasakan manfaat kemajuan teknologi AI.

Gedung Putih di bawah Presiden Joe Biden juga mendukung pemanfaatan AI. Inisiatif AI in the White House diluncurkan sebagai bagian dari upaya mengintegrasikan AI dalam layanan dan operasional pemerintah, untuk meningkatkan layanan publik, kebijakan, dan keamanan nasional.

Upaya regulasi ini mencerminkan besarnya pengaruh AI pada kampanye dan iklan politik. Efektivitas iklan politik AI masih jadi perdebatan; ada yang menilai kemampuan AI menyasar pemilih dengan pesan sesuai preferensi mereka sangat efektif, tapi ada juga kekhawatiran penyalahgunaan AI untuk menyebar hoaks dan isu etika penggunaan iklan tertarget tersebut.

AI in the White House Initiative

Di era Biden, AI jadi fokus utama di banyak sektor seperti pertahanan, kesehatan, lingkungan, dan pembuatan kebijakan. Kantor Kebijakan Ilmu Pengetahuan & Teknologi Gedung Putih (OSTP) turut membentuk strategi nasional AI, mengarahkan pengembangan AI yang selaras dengan nilai-nilai Amerika dan menjaga posisi AS tetap terdepan di bidang AI.

Pemerintah AS juga memiliki berbagai inisiatif AI seperti American Artificial Intelligence Initiative di masa pemerintahan Trump, yang mendorong inovasi AI, perbaikan pemanfaatan AI di pemerintahan, serta penetapan standar sistem AI.

Apakah Kampanye Politik Diuntungkan dari Iklan AI?

Manfaat AI dalam kampanye politik sudah terbukti. AI membantu memahami sentimen pemilih secara lebih canggih, membuat konten menarik, dan mengoptimalkan strategi kampanye. Sebagai contoh, saat kampanye Presiden Donald Trump, AI digunakan untuk analisis tren medsos dan menyesuaikan pesan kampanye secara real time.

Dampak AI pada politik meluas jauh di luar AS. Contohnya, Partai Sintetis Denmark memanfaatkan AI untuk merancang kebijakan berdasarkan opini publik. Meski belum ada padanan langsung di AS, peran AI dalam membantu pengambilan kebijakan makin berkembang. Misalnya, pekan lalu Gedung Putih memakai citra AI untuk analisis situasi politik di Taiwan.

Namun, dengan makin luasnya peran AI, pengawasan yang kuat menjadi penting. Langkah positif sudah diambil dengan Komisi Pemilihan Federal (FEC) yang kini meneliti penggunaan AI dalam iklan politik. Media besar seperti CNN dan Axios juga semakin sering membahas AI di kampanye politik, membantu membentuk opini publik.

Evolusi AI dalam politik masih berlangsung. Saat legislator, partai seperti Demokrat maupun Republik, serta pemimpin seperti Joe Biden dan mantan Presiden Trump menavigasi era baru ini, pentingnya memahami, mengatur, dan memanfaatkan AI secara bertanggung jawab untuk tujuan politik menjadi semakin nyata.

Meningkatnya peran AI dalam kampanye dan iklan politik hanyalah satu bagian dari transformasi digital yang mengubah politik. Seiring kemajuan AI, pengaruhnya pada strategi politik, regulasi, dan diskursus publik akan terus berkembang. Dari New York hingga Florida, politisi dan pemilih menyaksikan langsung bagaimana AI mengubah peta politik.

Di Mana Kampanye Politik Bisa Membuat Iklan Politik AI?

Ada beberapa pemain utama di bidang ini yang sanggup memenuhi tuntutan kualitas dan jumlah untuk berbagai media penyiaran.

  1. Speechify Voice Over: Speechify Voice Over merupakan aplikasi AI terdepan untuk iklan politik. Anda dapat buat video iklan untuk TV, YouTube, atau audio untuk Spotify, radio, dan platform streaming lain. Mudah digunakan bahkan oleh staf magang untuk membuat banyak variasi iklan tiap hari, sehingga pengujian jadi lebih cepat.
  2. GPT-3 by OpenAI: GPT-3 adalah salah satu model pemrosesan bahasa AI tercanggih. Dapat digunakan untuk menghasilkan teks iklan menarik dengan prompt khusus. Namun butuh keahlian pemrograman dan akses ke API OpenAI.
  3. Platform Media Sintetis dan Deepfake: Alat seperti Synthesia, DeepArt, dan Zao dapat digunakan untuk membuat video AI, gambar, atau voice over. Alat ini menghasilkan media sintetis sangat realistis untuk kebutuhan iklan politik.
  4. Platform Analitik Data: Tableau, Looker, atau PowerBI dari Microsoft dapat menganalisis data pemilih dan membagi audiens, sehingga pembuatan iklan politik jadi lebih tertarget.
  5. Platform Chatbot: Chatfuel atau ManyChat memungkinkan pembuatan chatbot berbasis AI. Walau bukan iklan konvensional, bisa dipakai menjaring pemilih, menjawab pertanyaan, dan menyebar pesan kampanye.
  6. Platform Iklan Media Sosial: Facebook, Google, & Twitter punya platform iklan berbasis AI untuk penargetan. Setelah konten AI siap, bisa digunakan untuk menjangkau audiens sesuai target.
  7. Alat Optimasi Konten AI: Cortex dan MarketMuse memakai AI untuk memberi saran perbaikan dan optimasi agar konten lebih menarik.

Ini contoh Iklan Politik AI di Speechify Voice Over, dibuat kurang dari 15 menit.

Partai Sintetis Denmark

Jika menurut Anda kampanye politik AI saja sudah luar biasa, selamat datang di Partai Sintetis Denmark.

Partai Sintetis Denmark adalah gerakan politik inovatif yang memakai kecerdasan buatan untuk pembuatan kebijakan. Mereka menggunakan AI untuk menganalisis opini publik, tren dunia, dan wawasan ahli guna membentuk agenda politik. Pendekatan ini pada dasarnya menciptakan representasi "sintetis" dari kehendak rakyat.

Tujuan Partai Sintetis adalah mengurangi bias dan kesalahan manusia dalam pengambilan keputusan, sekaligus menyoroti peran transformatif AI di dunia politik. Namun, pendekatan ini juga menimbulkan kekhawatiran soal kurangnya pertimbangan dan etika manusia yang hanya bisa diberikan politisi sungguhan.

Padanan Partai Sintetis Denmark di AS

Penggunaan AI dalam politik AS saat ini terbatas untuk strategi kampanye, seperti penargetan pemilih, analisis sentimen, dan pembuatan iklan. Gagasan partai politik murni berbasis AI yang membentuk kebijakan berdasarkan analisis AI sepenuhnya, belum diadopsi.

Namun tren penggunaan AI di bidang politik AS terus berkembang. Inisiatif seperti AI in the White House di era Presiden Joe Biden menunjukkan minat besar memanfaatkan AI untuk kebijakan dan layanan publik. Pendekatan unik Partai Sintetis Denmark bisa jadi inspirasi untuk masa depan, seiring AI makin banyak diintegrasikan ke berbagai sendi masyarakat.

Hasilkan voice over, dubbing, dan cloning dengan 1.000+ suara dalam 100+ bahasa

Coba gratis
studio banner faces

Bagikan artikel ini

Cliff Weitzman

Cliff Weitzman

CEO/Pendiri Speechify

Cliff Weitzman adalah advokat disleksia, sekaligus CEO dan pendiri Speechify, aplikasi text-to-speech nomor 1 di dunia dengan lebih dari 100.000 ulasan bintang 5 dan peringkat pertama di App Store untuk kategori Berita & Majalah. Pada tahun 2017, Weitzman masuk daftar Forbes 30 Under 30 berkat upayanya membuat internet lebih mudah diakses bagi penyandang disabilitas belajar. Cliff juga pernah tampil di EdSurge, Inc., PC Mag, Entrepreneur, Mashable, dan berbagai media terkemuka lainnya.

speechify logo

Tentang Speechify

#1 Pembaca Teks ke Ucapan

Speechify adalah platform teks ke ucapan terkemuka di dunia, dipercaya oleh lebih dari 50 juta pengguna dan didukung oleh lebih dari 500.000 ulasan bintang lima di berbagai aplikasi teks ke ucapan iOS, Android, Ekstensi Chrome, aplikasi web, dan desktop Mac. Pada tahun 2025, Apple memberikan Speechify penghargaan terhormat Apple Design Award di WWDC, menyebutnya sebagai “sumber penting yang membantu orang menjalani hidup mereka.” Speechify menawarkan 1.000+ suara alami dalam 60+ bahasa dan digunakan di hampir 200 negara. Suara selebriti termasuk Snoop Dogg dan Gwyneth Paltrow. Untuk kreator dan bisnis, Speechify Studio menyediakan alat canggih, termasuk AI Voice Generator, AI Voice Cloning, AI Dubbing, dan AI Voice Changer. Speechify juga menyokong produk-produk terkemuka dengan API teks ke ucapan berkualitas tinggi dan hemat biaya. Telah diliput di The Wall Street Journal, CNBC, Forbes, TechCrunch, dan banyak media besar lainnya, Speechify adalah penyedia teks ke ucapan terbesar di dunia. Kunjungi speechify.com/news, speechify.com/blog, dan speechify.com/press untuk informasi lebih lanjut.