1. Beranda
  2. Disleksia
  3. Disleksia vs. disgrafia – apa perbedaannya?
Dipublikasikan pada Disleksia

Disleksia vs. disgrafia – apa perbedaannya?

Cliff Weitzman

Cliff Weitzman

CEO/Pendiri Speechify

apple logoApple Design Award 2025
50J+ pengguna

Disleksia vs. disgrafia – apa perbedaannya?

Apa bedanya disleksia dan disgrafia? Apakah dua kondisi pemrosesan bahasa ini sama? Apakah selalu muncul bersamaan? 

Hubungan antara disleksia dan disgrafia

Walaupun disleksia dan disgrafia bukan kondisi yang sama, keduanya adalah gangguan neurologis dan sering saling berkaitan. Seperti yang Anda tahu, disleksia adalah gangguan belajar yang ditandai dengan kesulitan mengeja, membaca, dan menulis. 

Disgrafia, sebaliknya, adalah kesulitan dalam menulis tangan. Namun ini hanya mengacu pada aktivitas menulis tangan saja. Karena itu, kedua gangguan ini sering muncul bersamaan. Seseorang bisa mengalami kesulitan membaca dan menulis sekaligus. 

Perbedaan antara disleksia dan disgrafia

Jika kedua kondisi ini dipisahkan, perbedaannya tampak jelas. Disleksia berkaitan dengan membaca, meskipun bisa berdampak pada hal lain. Sebagian besar penderita disleksia kesulitan membedakan huruf atau kata saat membaca. Ini termasuk gangguan membaca.

Penderita disgrafia akan kesulitan menulis dengan tangan. Kebanyakan tidak bermasalah jika menggunakan keyboard. Gerakan tangan saat menulis di atas kertas menjadi masalah utama. 

Tentu saja, baik disleksia maupun disgrafia bisa berdampak negatif pada rasa percaya diri seseorang.

Tanda-tanda disleksia

Jika Anda bertanya-tanya apakah Anda memiliki disleksia, ada beberapa tanda umum yang bisa dikenali. Seperti kondisi lain, gejalanya bisa berbeda-beda. Ada tingkat keparahan yang berbeda pada disleksia, dan tidak semua orang akan mengalami semua gejala dan tanda

Masalah membentuk kata

Tanda utama disleksia adalah kesulitan membentuk kata. Seseorang bisa terlambat bicara dan kesulitan belajar kata baru, menyebutkan huruf, warna, angka, dan lain-lain. 

Disleksia dapat terdeteksi sejak dini, dan penanganan sejak awal sangat penting. 

Sulit membaca

Sudah jelas bahwa salah satu tanda terbesar disleksia adalah kesulitan membaca. Masalah ini bisa muncul di segala usia. Penderitanya sering kesulitan membaca lantang, membutuhkan waktu lebih lama di tiap halaman, dan merasa lelah dengan proses membaca. 

Mereka juga sering tidak bisa meringkas cerita, kesulitan belajar bahasa baru, bahkan cenderung menghindari aktivitas yang berhubungan dengan membaca. 

Masalah mengeja

Membaca dan mengeja saling berkaitan. Penderita disleksia mungkin kesulitan menulis kata dengan benar. Menariknya, masalah mengeja juga sangat erat kaitannya dengan disleksia dan disgrafia, sehingga sebaiknya berkonsultasi ke dokter secepatnya. 

Tak mudah memastikan kondisi mana yang dialami (atau keduanya), dan hal itu akan mempengaruhi penanganannya. 

Tanda-tanda disgrafia

Bagaimana mengetahui jika seseorang mengalami disgrafia? Apakah hanya tulisan tangan yang jelek atau ada hal lain yang perlu diperhatikan? 

Ada beberapa tanda disgrafia, dan sebagian tumpang tindih dengan tanda disleksia. Yang terbaik adalah berkonsultasi dengan spesialis agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Disgrafia bisa terjadi pada anak maupun orang dewasa. 

Membentuk huruf

Orang dengan disgrafia sulit membentuk huruf. Biasanya, huruf yang dibuat tidak jelas dan tidak konsisten, serta membutuhkan waktu lama. Kesulitan ini terutama muncul pada huruf kecil. 

Mereka butuh waktu lama menulis tiap kata (terutama tulisan sambung), dan mudah dibedakan dari orang yang tidak mengalami disgrafia.  

Tulisan tangan

Tulisan tangan sulit dibaca, jarak antar kata tidak konsisten. Sering juga mereka memasukkan huruf kapital secara acak saat menulis. Anda juga bisa melihat penggunaan huruf besar-kecil yang tidak tepat. 

Karena membaca dan menulis butuh memori dan fokus, penderita disgrafia juga sering mengalami kesulitan tata bahasa. 

Tanda baca, ejaan, dan tugas menulis

Segala aktivitas menulis bisa jadi masalah, termasuk tanda baca dan ejaan. Penderita disgrafia kesulitan dalam tugas menulis, bahkan bisa jadi tidak dapat menyelesaikannya. 

Semua hal itu bisa dikenali sebagai tanda disgrafia, bahkan sejak usia dini. 

Gangguan belajar lain yang mirip disleksia

Disleksia hanyalah salah satu dari banyak gangguan belajar, dan ada gangguan lain dengan gejala serupa. Seperti sudah disebutkan, disgrafia adalah gangguan menulis, tetapi anak juga bisa memiliki diskalkulia, disfasi, dispraksia, ADHD, autisme, dan lainnya. 

Diskalkulia adalah ketidakmampuan dalam berhitung dan memahami konsep angka. Disfasi berarti kesulitan berbicara. Dispraksia artinya kesulitan motorik halus, yang juga bisa mempengaruhi keterampilan menulis.

Atasi masalah belajar dengan aplikasi text to speech Speechify

Salah satu cara membantu mengatasi gangguan belajar adalah dengan Speechify. Aplikasi text to speech ini bisa mengurangi banyak kendala, terutama pada disleksia. Alih-alih lama membaca, cukup salin teks lalu dengarkan melalui aplikasi. 

Dengan banyak pilihan penyesuaian, Speechify mendukung berbagai bahasa & aksen, serta bisa dipakai di sistem operasi apa pun. Mendengarkan konten seperti audiobook jelas lebih mudah bagi orang dengan gangguan bahasa, dan Speechify juga menawarkan banyak audiobook.

Coba aplikasi Speechify text to speech atau audiobooks gratis hari ini.

FAQ

Apa perbedaan disleksia, diskalkulia, dan disgrafia?

Disleksia adalah gangguan membaca, sedangkan disgrafia adalah gangguan menulis. Tidak jarang seseorang mengalami keduanya, dan ada beberapa gejala yang tumpang tindih (seperti ejaan). 

Apa saja 5 jenis disgrafia?

Lima jenis disgrafia adalah disgrafia disleksik, disgrafia motorik, disgrafia spasial, disgrafia fonologis, dan disgrafia leksikal. 

Bagaimana cara mengatasi disgrafia?

Penanganan paling umum untuk disgrafia adalah terapi okupasi. Cara lain termasuk penggunaan alat seperti keyboard khusus dan aplikasi text to speech seperti Speechify.

Nikmati suara AI tercanggih, file tanpa batas, dan dukungan 24/7

Coba gratis
tts banner for blog

Bagikan artikel ini

Cliff Weitzman

Cliff Weitzman

CEO/Pendiri Speechify

Cliff Weitzman adalah advokat disleksia, sekaligus CEO dan pendiri Speechify, aplikasi text-to-speech nomor 1 di dunia dengan lebih dari 100.000 ulasan bintang 5 dan peringkat pertama di App Store untuk kategori Berita & Majalah. Pada tahun 2017, Weitzman masuk daftar Forbes 30 Under 30 berkat upayanya membuat internet lebih mudah diakses bagi penyandang disabilitas belajar. Cliff juga pernah tampil di EdSurge, Inc., PC Mag, Entrepreneur, Mashable, dan berbagai media terkemuka lainnya.

speechify logo

Tentang Speechify

#1 Pembaca Teks ke Ucapan

Speechify adalah platform teks ke ucapan terkemuka di dunia, dipercaya oleh lebih dari 50 juta pengguna dan didukung oleh lebih dari 500.000 ulasan bintang lima di berbagai aplikasi teks ke ucapan iOS, Android, Ekstensi Chrome, aplikasi web, dan desktop Mac. Pada tahun 2025, Apple memberikan Speechify penghargaan terhormat Apple Design Award di WWDC, menyebutnya sebagai “sumber penting yang membantu orang menjalani hidup mereka.” Speechify menawarkan 1.000+ suara alami dalam 60+ bahasa dan digunakan di hampir 200 negara. Suara selebriti termasuk Snoop Dogg dan Gwyneth Paltrow. Untuk kreator dan bisnis, Speechify Studio menyediakan alat canggih, termasuk AI Voice Generator, AI Voice Cloning, AI Dubbing, dan AI Voice Changer. Speechify juga menyokong produk-produk terkemuka dengan API teks ke ucapan berkualitas tinggi dan hemat biaya. Telah diliput di The Wall Street Journal, CNBC, Forbes, TechCrunch, dan banyak media besar lainnya, Speechify adalah penyedia teks ke ucapan terbesar di dunia. Kunjungi speechify.com/news, speechify.com/blog, dan speechify.com/press untuk informasi lebih lanjut.