Diskalkulia, sering disebut sebagai disleksia angka, adalah gangguan belajar yang berkaitan dengan matematika. Anak-anak dengan diskalkulia kesulitan membedakan angka dan menerapkan rumus matematika untuk menyelesaikan soal aritmetika.
Diskalkulia sering disamakan dengan disleksia, yaitu gangguan belajar yang memengaruhi kesadaran fonemik dan fonologis anak.
Definisi diskalkulia
Diskalkulia atau disleksia angka adalah gangguan perkembangan yang menghambat kemampuan anak dalam memperoleh keterampilan matematika. Anak-anak dengan diskalkulia umumnya bisa berprestasi di mata pelajaran lain, tetapi selalu kesulitan di matematika. Mereka tidak memahami makna angka atau cara melakukan operasi matematika dasar seperti pembagian, perkalian, penjumlahan, dan pengurangan.
Jadi, inilah definisi diskalkulia yang lebih tepat. Ini adalah gangguan otak yang berkaitan dengan gangguan koneksi saraf yang memproses kesadaran aritmetika dan bahasa angka.
Prevalensi disleksia angka
Diskalkulia tidak seterkenal disleksia, namun prevalensinya serupa. Penelitian menunjukkan diskalkulia terjadi pada 3% sampai 6% siswa SD, dan jumlahnya seimbang antara laki-laki dan perempuan.
Perbedaan antara diskalkulia dan disleksia
Orangtua dan guru sering memakai istilah ‘disleksia angka’ atau ‘disleksia matematika’ untuk diskalkulia. Namun, disleksia dan diskalkulia adalah jenis gangguan belajar yang berbeda.
Disleksia adalah gangguan belajar yang membuat anak sulit membaca dan mengeja. Istilah disleksia sering disalahartikan dan dipakai untuk gangguan belajar lain seperti diskalkulia dan disgrafia.
Istilah yang lebih tepat untuk diskalkulia adalah ‘gangguan matematika’ atau ‘kesulitan belajar matematika.’
Hubungan dengan gangguan lain
Diskalkulia bisa berkaitan dengan gangguan lain.
Penelitian menunjukkan, setengah dari anak dengan disleksia juga mengalami diskalkulia.
Penelitian tahun 2015 menyatakan sekitar 11% anak dengan diskalkulia juga mengalami ADHD (gangguan hiperaktif dan defisit perhatian).
Gangguan belajar seperti ini bisa muncul bersamaan. Disarankan untuk memeriksakan anak secara menyeluruh jika sudah terdiagnosis salah satu gangguan.
Jenis-jenis diskalkulia
Menurut website disleksia dari Irlandia, diskalkulia dibagi menjadi tiga sub-kategori.
- Kuantitatif – Anak sulit menghitung angka atau melakukan hitungan sederhana
- Kualitatif – Anak tidak mampu menguasai keterampilan aritmatika atau tidak paham instruksi pengerjaan
- Intermediat – Anak tidak dapat melakukan operasi matematika dasar dengan memakai angka atau simbol
Dr. Ladislav Kosc, pelopor di bidang ini, membagi diskalkulia menjadi enam tipe berdasarkan tanda dan gejalanya.
- Verbal – Anak dengan diskalkulia verbal sulit memahami dan menyebut konsep matematika secara lisan. Mereka bisa membaca/menulis angka, tetapi kesulitan mengenali angka jika disampaikan secara lisan.
- Leksikal – Diskalkulia leksikal adalah kesulitan membaca angka, simbol, ekspresi, dan persamaan matematika. Anak dapat paham bila konsep diucapkan, tapi kesulitan menulis atau memahaminya secara tertulis.
- Grafis – Anak dengan diskalkulia grafis sulit menulis angka atau simbol matematika. Anak dapat memahami konsep, namun tidak mampu menulis atau menggunakan simbol dengan benar.
- Operasional – Jenis ini mengganggu kemampuan melakukan operasi matematika, baik secara lisan seperti menghitung maupun secara tertulis. Anak paham angka dan hubungannya, tetapi tidak bisa mengolahnya dalam perhitungan.
- Ideognostik – Anak sulit memahami dan mengingat konsep matematika yang telah dipelajari.
- Praktognostik – Anak memahami konsep matematika tapi kesulitan menerapkannya dalam kehidupan nyata, seperti membandingkan panjang benda.
Gejala Diskalkulia
Gejala diskalkulia tampak dari berbagai kesulitan dalam matematika.
- Bingung simbol matematika (+ - x ÷) atau kurang paham penggunaannya
- Sulit membaca jam analog
- Sulit melakukan operasi dasar seperti tambah, kurang, kali, bagi atau mengerti istilah 'plus', 'jumlah'
- Kemampuan aritmetika mental lemah
- Sulit membedakan angka mana yang lebih besar
- Kesulitan mengingat perkalian
- Masalah urutan/sekuen
- Melihat angka hanya sebatas simbol tanpa arti (istilah disleksia matematika)
- Sulit membedakan arah kiri atau kanan
- Strategi menghitung kurang tepat, misalnya menggambar 100 titik untuk menambah 100 + 25
- Tidak bisa 'subitizing', yaitu cepat mengenali jumlah benda tanpa menghitung satu-satu
- Sulit menggunakan kalkulator karena tidak tahu variabel atau simbolnya
- Gagal menggeneralisasikan konsep sederhana, misal 2+6=8 maka 20+60=80
- Sulit mengenali, memprediksi, atau melanjutkan pola bilangan seperti 10, 20, 30, dst.
- Sulit menghitung mundur, misal menentukan waktu berangkat agar tiba pukul x
- Membalik atau menukar angka, misal 49 jadi 94
- Sulit mencatat skor dalam pertandingan
- Kesulitan tugas sehari-hari seperti menghitung kembalian belanjaan
- Tidak bisa memahami/ingat konsep, rumus, dan urutan matematika
- Kasus ekstrem bisa memicu fobia angka/matematika bahkan alat hitung
Gejala dan ciri-ciri diskalkulia bisa berbeda sesuai usia anak.
40+ Gejala diskalkulia pada anak prasekolah
- Sulit belajar menghitung
- Kesulitan mengelompokkan benda
- Menulis angka terbalik
- Sulit mengenali simbol angka (tidak mengaitkan “4” dengan “empat”)
- Tidak menghubungkan angka dengan situasi nyata/benda (misal 2 dengan 2 lilin)
- Kesulitan memahami angka
- Menulis simbol angka salah atau terbalik (misal 6 lalu jadi 9)
- Sulit mengelompokkan benda menurut ukuran/bentuk
- Kesulitan mengingat bunyi angka
- Mencampur angka yang terdengar mirip
- Salah urutan saat menghitung/ada angka dobel atau hilang
- Tidak bisa mulai menghitung dari tengah, selalu mulai dari awal
- Gejala diskalkulia pada anak TK hingga SMP
- Sulit mengingat atau mempelajari struktur aritmetika dasar (misal 2+2=4)
- Tidak mengenal istilah ‘kurang dari’ atau ‘lebih dari’
- Selalu menghitung dengan jari
- Sulit memakai simbol matematika dan membedakannya, misal plus/minus
- Tidak mengenali angka dengan benar
- Sulit mengingat atau memahami aturan/urutan dalam soal matematika
- Salah urutan dalam mengerjakan soal
- Sulit bernalar, hasil pengurangan malah lebih besar dari angka awal
- Kesulitan saat penjumlahan/pengurangan dan tak paham desimal/deret angka
- Sulit melakukan operasi dasar di kepala
- Tidak bisa mengingat pola angka yang pernah ditemui
- Sulit menata soal matematika (horizontal ke vertikal), angka sering tertukar
- Sulit memahami soal cerita yang didiktekan atau dibacakan guru
- Cemas saat mengerjakan tugas matematika
- Mengalami kesulitan umum seperti membaca jam atau memahami arah
- Gejala pada remaja SMA
- Sulit menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari (membuat anggaran, menghitung kembalian belanja, dll.)
- Sulit mengukur variabel (misal berapa 500 ml susu? 250 g tepung?)
- Bingung memahami informasi dari grafik, peta, tabel
- Sering tersesat karena kurang baik dalam orientasi
- Sulit mengemudi karena tak bisa memperkirakan kecepatan/jarak
- Tak bisa memakai beberapa rumus/taktik sekaligus
- Cemas saat mengerjakan tugas matematika
- Gejala diskalkulia pada dewasa
- Sulit menghitung mundur
- Sulit mengingat fakta sederhana
- Memiliki pemahaman angka dan estimasi yang lemah
- Kesulitan memahami nilai tempat angka
- Lambat menghitung dibanding orang seusianya
- Aritmetika mental lemah
- Sangat cemas terhadap matematika
Penyebab Diskalkulia
Diskalkulia memengaruhi anak di satu, dua, atau semua area berikut:
- Inti angka
- Penalaran
- Memori
- Visual-spasial
Apa penyebab diskalkulia?
Peneliti telah melakukan banyak studi untuk menemukan penyebab diskalkulia. Hasilnya menyatakan diskalkulia disebabkan oleh:
Genetik
Masalah perkembangan otak
Teknik neuroimaging menampilkan aktivitas otak secara langsung. Data menunjukkan gangguan koneksi saraf pada area otak yang mengelola proses angka dan aritmetika.
Tipe diskalkulia ini disebut diskalkulia perkembangan.
Jika anak kehilangan kemampuan matematika karena cedera otak atau gangguan kognitif lain, disebut akalkulia. Akalkulia atau diskalkulia yang didapat menyebabkan anak benar-benar tidak mampu memakai simbol matematika.
Penyebab utama disleksia angka umumnya bawaan. Sering kali salah satu orangtua juga kesulitan matematika.
Namun, penyebab diskalkulia mirip dengan beberapa gangguan kognitif lainnya.
Defisit representasi angka – Gangguan saraf ini membuat representasi mental dalam mengenali angka menjadi keliru. Akibatnya, anak sulit memahami soal matematika dengan benar.
Defisit kognitif yang membuat penyimpanan info sulit – Jaringan koneksi otak pada anak dengan diskalkulia menempuh jalur berbeda dibanding anak tanpa gangguan ini.
Ada juga penyebab diskalkulia lain yang berkaitan dengan disleksia.
Di antaranya adalah:
- Gangguan otak neurologis
- Gangguan psikomotor
- Ibu terpapar obat/narkoba/alkohol saat hamil
- Kegagalan pematangan sistem saraf
- Lahir prematur
Diagnosis diskalkulia
Diskalkulia adalah gangguan belajar yang menghambat perkembangan alami kemampuan aritmetika seseorang.
Keberhasilan intervensi sangat bergantung pada diagnosis yang tepat. Untuk mendiagnosis diskalkulia, perlu dipahami bagaimana gangguan ini memengaruhi otak.
Dampak diskalkulia pada otak
Diskalkulia merupakan disfungsi saraf pada sulkus intraparietal otak. Gangguan belajar ini menyebabkan penurunan fungsi kognitif dan berdampak pada kemampuan berikut.
Memori kerja – Memori kerja adalah tempat penyimpanan sementara. Kemampuan ini dibutuhkan untuk memanipulasi info saat menyelesaikan tugas kompleks. Kekurangannya menyebabkan sulit mengikuti instruksi, ingatan tidak lengkap, konsentrasi rendah, mudah lupa angka, atau melupakan tugas dan perhitungan mental yang lambat.
Konsentrasi – Terdapat defisit koneksi saraf untuk konsentrasi sehingga mudah kehilangan fokus. Belajar matematika jadi terasa menakutkan bagi anak.
Memori jangka pendek – Memori jangka pendek menyimpan informasi sebentar. Kekurangan di area ini membuat anak mudah lupa angka atau simbol saat menghitung, atau sulit mempelajari tabel perkalian.
Perhatian terbagi – Kemampuan multitasking menurun. Kekurangannya membuat anak mudah terdistraksi dan cepat lelah.
Perencanaan – Perencanaan membantu mengatur langkah serta memprediksi hasil. Kekurangan ini menyebabkan tidak bisa merencanakan atau mengakhiri soal dengan benar.
Kecepatan proses – Kecepatan proses otak artinya waktu yang dibutuhkan otak menerima, mengolah, dan merespons info. Anak tanpa gangguan menyelesaikan secara otomatis, sedangkan anak dengan diskalkulia perlu waktu lebih lama untuk memahami soal.
Penamaan – Kemampuan mengingat nama atau simbol angka dan memanggilnya kembali saat dibutuhkan. Anak dengan defisit ini sulit mengingat angka saat mengerjakan soal.
Tes Diskalkulia
Sebaiknya singkirkan kemungkinan lain sebelum memeriksakan anak untuk diskalkulia. Misalnya, periksakan ke dokter jika ada masalah penglihatan atau pendengaran yang berpengaruh ke kemampuan matematika anak.
Pastikan juga anak tidak mengalami masalah pada pelajaran lain dengan bertanya pada guru.
Jika Anda yakin anak mungkin diskalkulia, temui spesialis belajar untuk diagnosis. Karena diskalkulia masuk SLD (Specific Learning Disorder), diagnosis membutuhkan empat kriteria:
Anak mulai kesulitan belajar di sekolah.
Kemampuan akademik anak lebih rendah dibanding teman seusianya, mencakup kesulitan dalam tugas harian, tugas sekolah, PR, dan aktivitas rutin.
Anak dengan diskalkulia menunjukkan satu atau lebih dari enam gejala terkait kesulitan belajar dan keterampilan akademik.
Faktor lain/penyakit juga harus ditelusuri dan disingkirkan, termasuk gangguan saraf, masalah psikososial, kecacatan intelektual, dan kurangnya instruksi yang tepat.
Jika syarat ini terpenuhi, anak siap mengikuti tes diskalkulia. Tes meliputi empat elemen utama:
Kelancaran matematika: Bisakah anak mengingat fakta dasar matematika tanpa kesulitan, seperti 5 X 5 = 25 atau menjumlah pecahan?
Kemampuan komputasi: Bisakah anak melakukan operasi dasar? Anak kecil kesulitan tambah/kurang, anak besar kesulitan pecahan, desimal, bilangan kuadrat/sqroot.
Penalaran kuantitatif: Bisakah anak mengerti soal cerita matematika dan memecahkannya?
Perhitungan mental: Bisakah anak menyelesaikan masalah matematika di kepala?
Setelah tes, pakar bisa membuat laporan sebagai panduan untuk membantu anak Anda.
Pengobatan Diskalkulia
Seperti disleksia, cara terbaik mengatasi diskalkulia adalah dengan diagnosis dini. Semakin cepat terdeteksi, semakin cepat anak bisa dibekali cara belajar baru agar tidak tertinggal.
Gangguan belajar tidak bisa diobati dengan obat. Diskalkulia, seperti disleksia, juga tidak dapat disembuhkan. Penanganan dilakukan melalui instruksi khusus, intervensi, dan akomodasi. Tujuan utamanya adalah mengisi kekosongan pengetahuan anak dengan diskalkulia dan membantu mereka menemukan strategi bertahan sepanjang hidup.
Rekomendasi
- Psikolog pendidikan dan ahli belajar menyarankan alat berikut untuk anak diskalkulia:
- Rencana belajar khusus untuk anak dengan diskalkulia
- Permainan belajar berbasis matematika
- Latihan keterampilan matematika lebih sering daripada murid biasanya
- Akomodasi
- Anak dengan diskalkulia berhak menerima akomodasi di kelas berdasarkan IDEA (Undang-Undang Pendidikan Penyandang Disabilitas):
- Memperbolehkan penggunaan kalkulator
- Menyesuaikan tingkat kesulitan tugas
- Memperpanjang waktu ujian/tugas
- Fokus pembelajaran pada keterampilan dasar dan inti
- Ruang kerja yang tenang
- Boleh merekam pelajaran
- Menggunakan poster untuk membantu mengingat fakta matematika dasar
- Materi tambahan bisa melalui proyek praktik atau pembelajaran komputer interaktif
Jika diskalkulia tidak diatasi sejak anak-anak, akan terbawa hingga dewasa dan menimbulkan kesulitan saat kuliah ataupun bekerja.
Oleh karena itu, orang dewasa dengan diskalkulia berhak menerima akomodasi khusus di tempat kerja sesuai aturan ADA (Americans with Disabilities Act).
Cara membantu anak diskalkulik
Diskalkulia tanpa perhatian dapat menyebabkan kecemasan terhadap matematika atau aritmofobia. Jadi, anak perlu diperlakukan dengan sabar agar percaya diri dan tidak takut matematika.
Untuk membantu anak melawan diskalkulia, Anda bisa melakukan hal berikut:
- Berikan alat bantu yang tepat, misalnya kalkulator yang mudah dipakai
- Izinkan anak memakai kertas/jari saat menghitung
- Cari guru privat matematika yang paham gangguan belajar
- Coba gunakan musik dan ritme untuk mengajarkan matematika
- Gunakan kertas kotak untuk merapikan penulisan angka
- Selalu puji usaha anak, bukan hanya hasil yang benar
- Ajari soal cerita matematika dengan bantuan gambar
- Pasang game matematika di komputer/laptop untuk anak
- Tingkatkan pengetahuan Anda dan ajarkan tentang cara mengatasi kecemasan mereka
- Jangan memberi stigma, dan bicarakan secara terbuka dengan anak tentang kesulitan belajarnya
Permainan untuk melatih anak diskalkulia
Memotivasi dan bersabar adalah hal penting dalam intervensi diskalkulia. Anak harus yakin bahwa dengan latihan dan usaha terus-menerus, ia bisa mengatasi diskalkulia.
Ingatkan mereka akan kelebihan lain dan selalu dukung agar tetap ceria.
Belajar tidak selalu harus membosankan. Anda bisa membuat belajar jadi menyenangkan lewat permainan, misalnya:
- Permainan Supermarket: Minta anak membantu berbelanja, menghitung kebutuhan dan sisa barang di daftar belanja.
- Permainan Harga: Ajukan pertanyaan soal harga dan beri hadiah. Contoh: mana lebih murah, es krim $1 atau $2?
- Permainan Masak: Libatkan anak menyiapkan resep, misalnya ambil 4 wortel dan setengah mangkuk nasi.
- Permainan Jam: Tanyakan pukul berapa sekarang, misal 12:45. Beri pujian jika jawab benar.
- Permainan Bagi Kue: Beli kue, minta anak membagi ke 6 orang secara adil.
- Permainan Nomor Telepon: Tanya 3 digit pertama nomor ayahnya, Anda lanjutkan sisanya. Jika betul, rayakan bersama.
- Bermain Peran: Biarkan anak berperan sebagai kasir supermarket, Anda jadi pembeli, lalu ajarkan menghitung total harga, kembalian, dsb.
Kesimpulan
Diskalkulia, seperti gangguan belajar lain, tidak bisa disembuhkan. Namun, anak tetap dapat hidup normal jika mendapatkan bantuan yang tepat. Diagnosis dini adalah bentuk penanganan terbaik.
Lima aturan intervensi diskalkulia perlu diterapkan agar anak berkembang dalam keterampilan aritmetika.
Tetap berpegang pada prinsip dasar
Cegah kecemasan supaya anak tidak takut angka
Ajar dengan cara multisensori (gerak, suara, visual) agar saluran yang lemah didukung oleh yang kuat
Jangan biarkan anak putus asa bila salah, dan ajari makna positif di balik kesalahan
Pengulangan adalah hal yang wajar bagi mereka
Berbagai aplikasi bisa memudahkan belajar. Misal Speechify ialah aplikasi text-to-speech yang terbukti membantu anak dengan disleksia, ADHD, dan gangguan belajar lain. Umumnya, anak berkebutuhan khusus sulit fokus. Speechify membacakan teks sehingga mereka lebih mudah fokus dan belajar lebih cepat. Fitur mengubah teks jadi suara membantu anak membaca lebih cepat.
Namun, dukungan dan perhatian Anda tetap yang terpenting agar anak bisa mengatasi diskalkulia.

