Journey to the West adalah karya sastra Tiongkok terkenal yang ditulis anonim pada abad ke-16, pada masa Dinasti Ming. Novel ini dikaitkan dengan Wu Cheng'en, seorang cendekiawan ternama pada masa itu. Namun, tidak ada bukti kuat tentang penulis aslinya.
Journey to the West diakui luas sebagai kisah petualangan Tiongkok dan salah satu dari empat novel klasik terbesar dalam sastra Tiongkok. Namun, kepopulerannya di dunia tak lepas dari kontribusi besar Arthur Waley.
Waley adalah seorang orientalis Inggris ternama yang hidup antara 1889 dan 1960. Ia menerjemahkan novel klasik Tiongkok ini ke bahasa Inggris dan dikenal luas sebagai penerjemah teks Jepang dan Tiongkok lainnya.
Penerjemahan Journey to the West ke bahasa Inggris membuat novel ini mudah diakses dunia barat dan membuka jalan bagi lebih banyak orang menikmati kekayaan warisan sastra Tiongkok. Jadi, lanjutkan membaca untuk tahu apakah novel ini layak masuk daftar bacaanmu.
Apa itu Journey to the West?
Journey to the West berkisah tentang seorang biksu Buddha yang melakukan perjalanan dari Tiongkok ke India untuk mencari kitab suci. Sang biksu bernama Tang Sanzang, juga dikenal sebagai Tripitaka. Buddha menugaskan tiga murid berbakat namun bengal untuk membantunya dalam perjalanan ini.
Para murid ini adalah Raja Kera yang iseng dan bandel, babi rakus bernama Pigsy, dan Sandy si monster sungai. Nama Tionghoa mereka adalah Sun Wukong, Zhu Bajie, dan Sha Wujing.
Ketiga murid setuju mengantar Tripitaka demi menebus dosa mereka. Misalnya, Raja Kera pernah membuat keonaran di surga, mengacaukan para dewa dan menarik murka Kaisar Giok. Pigsy dulu menakut-nakuti warga desa, sedangkan Sandy terkenal memangsa para musafir malang.
Raja Kera adalah yang paling unik dan paling sakti di antara para murid. Ia lahir dari telur batu saat bumi masih muda dan dianugerahi kekuatan sihir serta rahasia surga dan bumi. Ia bisa terbang di atas awan, mengenali iblis yang menyamar, dan berubah wujud hingga 72 macam.
Agar Sun Wukong tidak menyalahgunakan kesaktiannya, Bodhisattva Guanyin memberikan Tripitaka ikat kepala yang akan mengencang tiap kali ia ingin menggunakan sihirnya sesuka hati.
Raja Kera adalah tokoh kunci karena ia melindungi Tripitaka dan membantunya menembus jalan penuh bahaya.
Journey to the West terinspirasi dari kisah nyata rakyat Tiongkok tentang Xuanzang, seorang biksu Buddha dari Dinasti Tang. Novel ini adalah versi fiksi dari perjalanan Xuanzang ke India lewat Jalur Sutra untuk mengambil kitab suci Buddha.
Keseluruhan novel ini sangat dipengaruhi mitologi Tiongkok, Konfusianisme, nilai-nilai tradisional Tiongkok, kepercayaan rakyat, teologi Tao, dan ajaran Buddha.
Adaptasi terkenal
Journey to the West telah diadaptasi dalam berbagai bentuk film, serial, dan buku. Berikut beberapa adaptasi buku ternama dari novel klasik ini.
American Born Chinese
American Born Chinese adalah novel grafis karya Jene Luen Yang. Buku ini menjadi finalis National Book Awards 2006 serta meraih Michael L. Printz Award dan Eisner Award pada 2007.
Novel ini menyajikan tiga narasi berbeda, salah satunya bercerita tentang Raja Kera dari Journey to the West. Di novel ini, Raja Kera tidak puas dengan wujud aslinya, dan kisahnya menggiring pembaca ke perjalanan menerima diri dan pencerahan.
Girl Giant and the Monkey King
Novel ini ditulis oleh Van Hoang dan banyak terinspirasi dari Journey to the West. Cerita mengikuti Thom Ngho, gadis 11 tahun dengan kekuatan super. Karena kesal dengan kemampuannya, ia meminta bantuan Raja Kera, si penipu ulung dari Journey to the West yang juga dijuluki Sang Maha Bijak dari Surga.
Journey to the West: Conquering the Demons
Journey to the West: Conquering the Demons adalah film komedi karya Stephen Chow yang mengisahkan ulang cerita aslinya. Film ini sangat terinspirasi dari versi asli, namun diberi sentuhan khas komedi Chow. Ada beberapa sudut pandang baru soal tema Taoisme dibanding sumber aslinya. Film ini mendapat sambutan hangat dan berlanjut ke sekuel.
Tentang penulis
Seperti telah disebutkan, penulis Journey to the West masih diperdebatkan, namun satu nama umumnya dianggap sebagai pencipta atau penulis utamanya.
Wu Cheng'en adalah novelis dan penyair ternama yang hidup antara 1500 hingga 1582. Ia sangat tertarik pada cerita rakyat, sastra klasik, dan anekdot. Cheng'en mengenyam pendidikan tradisional dan dikenal akan bakat serta kecerdasannya.
Pada 1544, universitas bergengsi di Nanjing mengangkatnya menjadi cendekiawan. Tahun 1546, Wu Cheng'en pindah ke Beijing, dan bakat sastranya makin terasah. Di Beijing, ia bergabung dengan kelompok sastra kecil untuk mendalami cerita klasik.
Setelah banyak bepergian, Wu Cheng'en akhirnya bermukim di Huai'an pada 1570. Sepanjang hidupnya, ia begitu terpesona oleh cerita rakyat, baik lisan maupun tulisan, dan akhirnya melahirkan karya terkenalnya, Xiyouji.
Cheng'en adalah sosok imajinatif dan gemar hal-hal unik. Walau tidak banyak yang diketahui tentang hidupnya, ia diabadikan lewat cerita rakyat klasik Tiongkok ciptaannya.
Dengarkan karya sejarah ternama di Speechify Audiobooks
Sedang cari petualangan seru? Coba Speechify Audiobooks! Speechify adalah layanan audiobook dengan koleksi judul luas yang siap memenuhi kebutuhan dan minat Anda.
Dengan fitur pencarian canggih, Anda bisa menemukan beragam genre dan judul, termasuk buku sejarah terkenal.
Platform ini juga menawarkan pilihan harga fleksibel untuk semua anggaran: Anda bisa berlangganan bulanan atau beli satuan. Yuk mulai petualangan hebat di Speechify Audiobooks! Anda tidak akan kecewa.
FAQ
Mengapa Journey to the West masih populer?
Journey to the West tetap populer karena satirnya yang tidak lekang zaman dan kisahnya penuh aksi dan petualangan seru.
Apa pesan moral utama dalam Journey to the West?
Pesan moral utama Journey to the West adalah ketekunan, kegigihan, ambisi, serta pentingnya pencerahan batin manusia.
Tema utama Journey to the West?
Beberapa tema utama Journey to the West adalah agama, menemukan jati diri, dan penebusan manusia.
Terjemahan Inggris Journey to the West yang paling akurat?
Ada banyak terjemahan Inggris Journey to the West oleh berbagai penerjemah, seperti Anthony C. Yu, W.J.F. Jenner, dan Arthur Waley. Namun, banyak pembaca menganggap versi Anthony C. Yu dari University of Chicago Press paling akurat.

