Aktor manusia telah mengisi suara untuk audiobook, game, materi e-learning, dan acara TV selama puluhan tahun. Namun, perkembangan teknologi menghadirkan peningkatan penggunaan pengisi suara berbasis kecerdasan buatan (AI).
Lewat algoritma, kloning suara, dan sintesis ucapan, teknologi AI perlahan mulai menggantikan pengisi suara manusia. Tapi, apakah teknologi ini cukup baik untuk merevolusi industri pengisi suara dan benar-benar menggantikan aktor profesional? Artikel ini akan membahasnya.
Sejarah pengisi suara
Sejarah pengisi suara dimulai dari Reginald Fessenden pada 1900. Terinspirasi oleh penemuan telepon Alexander Bell, Fessenden ingin menemukan cara berkomunikasi jarak jauh tanpa kabel.
Pada tahun 1900, ia berhasil merekam pengisi suara pertama: pesan singkat berisi info cuaca. Enam tahun kemudian, Fessenden merekam pesan Natal dan teks Alkitab yang didengar kapal di pantai timur laut Atlantik.
Tonggak penting lain dalam sejarah pengisi suara dilakukan Walt Disney pada 1928. Disney jadi yang pertama menghidupkan karakter kartun, sebagai pengisi suara Mickey Mouse di kartun Steamboat Willie.
Setahun kemudian, serial kartun Looney Tunes yang diproduksi Leon Schlesinger Productions dan didistribusikan Warner Bros muncul di bioskop. Looney Tunes memperkenalkan Mel Blanc, yang dikenal dengan julukan The Man of a Thousand Voices.
Hingga kini, Blanc dianggap salah satu pengisi suara terbaik sepanjang masa. Ia menghidupkan karakter seperti Bugs Bunny, Porky Pig, Tweety Bird, Tasmanian Devil, dan banyak lagi.
Blanc juga mengubah cara orang memandang pengisi suara. Ia meminta produser mencantumkan namanya di kredit, sehingga pengisi suara mulai diakui secara luas.
Dekade berikutnya, industri film animasi berkembang pesat. Pengisi suara profesional dibutuhkan untuk film, trailer, video promosi, dan iklan. Hal ini memicu peningkatan jumlah talenta pengisi suara profesional.
Salah satu figur terkemuka di industri pengisi suara tahun 1960-an dan 1970-an adalah Don LaFontaine. Setelah merekam trailer film pertamanya tahun 1962, LaFontaine menetapkan standar penulisan dan pengisi suara untuk trailer.
Menjelang akhir kariernya yang panjang dan sukses, LaFontaine telah merekam ribuan trailer dan iklan.
Sekarang, publik sudah terbiasa melihat selebriti mengisi suara untuk iklan,audiobook, film animasi, acara TV, dan kartun.
Belakangan ini, teknologi AI dan machine learning semakin berkembang. Dengan text to speech (TTS) dan suara sintetis, para ahli mampu meniru suara manusia serta menciptakan pengisi suara yang terdengar natural dengan cepat.
AI vs. pengisi suara manusia
Sebagian orang yakin teknologi suara AI tak akan bisa sepenuhnya menggantikan manusia karena tak punya sentuhan dan emosi, sementara yang lain justru berpendapat sebaliknya. Mari lihat kelebihan dan kekurangannya.
Kualitas
AI dan manusia sama-sama bisa menghasilkan kualitas suara tinggi. Bedanya, manusia punya sentuhan personal dan kemampuan menyampaikan pesan dengan tepat, sementara AI unggul dalam konsistensi.
Manajemen waktu
Manajemen waktu adalah salah satu keunggulan suara AI. AI memungkinkan rekaman, editing, dan pemrosesan jauh lebih cepat. Studio dan produser jadi bisa jauh lebih produktif dalam waktu singkat.
Pengisi suara manusia jauh lebih memakan waktu dan butuh lebih banyak pengaturan serta usaha.
Harga
Harga adalah faktor penting dalam rekaman suara. Mempekerjakan pengisi suara profesional jauh lebih mahal untuk audiobook, iklan, atau film animasi dibanding menggunakan generator suara AI.
Akurasi
Soal akurasi, aktor suara manusia dan AI sama-sama punya keunggulan. Aktor manusia kadang salah saat rekaman, tapi bisa menyampaikan intonasi dan nada bahasa dengan tepat.
Pengisi suara AI kadang tak “mengerti” cara membawakan pesan tertentu. Akibatnya, banyak yang terdengar kaku dan tidak natural, sehingga kurang disukai orang.
Namun, seperti yang kita lihat pada ChatGPT, Alexa, dan Siri, suara AI kini terdengar makin alami.
Bisakah pengisi suara AI sepenuhnya menggantikan manusia? Dalam banyak kasus, bisa. AI menawarkan kecepatan dan akurasi yang sulit ditandingi manusia.
Coba Speechify untuk pengisi suara natural
Banyak orang enggan menggunakan pengisi suara AI karena terdengar kaku. Kalau ingin layanan pengisi suara yang berkualitas dan terdengar natural, Speechify adalah solusinya.
Platform ini memungkinkan kamu membuat pengisi suara dari tulisan hanya dengan beberapa klik. Cukup kunjungi website, tempelkan teks, dan klik “Generate”.
Kamu bisa atur pelafalan, kecepatan, nada, jeda, dan elemen lain. Dengan Speechify, tersedia 200+ suara dan 20 bahasa. Ingin dengar offline? Kamu bisa unduh file dalam format mp3.
Coba Speechify sekarang dan temukan semua fitur unggulannya.
FAQ
Apakah voice acting lebih baik dari akting biasa?
Karena dua bidang yang berbeda, keduanya tidak bisa langsung dibandingkan. Beberapa orang lebih suka voice acting karena tak terekspos publik.
Apakah voice acting adalah bakat alami?
Tidak, voice acting bisa dipelajari, dilatih, dan diasah.
Apa suara AI yang paling realistis?
Salah satu suara AI paling realistis bisa kamu temukan di Speechify.
Apa beda voice acting dan voiceover?
Kedua istilah ini merujuk pada hal yang sama.
Apakah voice acting pekerjaan yang bagus?
Voice acting sangat cocok untuk yang suka pekerjaan kreatif dan fleksibel.

