Mendidik anak-anak mungkin salah satu tugas terpenting di dunia modern. Anak adalah masa depan kita, dan kebutuhan siswa sekarang jauh melampaui apa yang bisa diberikan kelas biasa. Guru perlu mengambil langkah proaktif untuk memahami dasar neurosains dan bagaimana hal ini mengubah cara pendidikan dan kesehatan mental dijalankan.
Salah satu tokoh utama dalam konsep neurodiversitas di pendidikan adalah Thomas Armstrong, Ph.D., penulis Awakening Genius in the Classroom dan Direktur Eksekutif American Institute for Learning and Human Development. Dalam bukunya, ia mengatakan guru perlu membantu anak-anak untuk "menemukan kejeniusan dalam diri mereka dan mendukungnya agar mengarah pada pemenuhan pribadi dan memberi manfaat bagi orang lain." Pendekatan ini merangkul kreativitas, yang menurut Armstrong dimiliki anak-anak secara alami karena belum terpengaruh "pandangan umum masyarakat."
Berikut 5 cara mendukung neurodiversitas di kelas agar kreativitas berkembang dan alat yang bisa guru gunakan untuk memperkaya rencana pelajaran serta membuat pendidikan lebih mudah diakses semua gaya belajar anak.
1. Jaga ruang kelas tetap aman secara psikologis
Anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD), Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), disleksia, disabilitas intelektual, kesulitan belajar, dan kebutuhan khusus lain memproses informasi secara berbeda dari anak neurotipikal. Agar anak merasa aman secara psikologis di lingkungan belajar, mereka perlu merasakan empat hal berikut:
- Merasa diterima dalam kelompok
- Merasa aman secara fisik dan mental untuk menerima informasi baru
- Merasa cukup aman untuk berani menyampaikan ide ke kelompok
- Merasa cukup aman dan berdaya untuk mempertanyakan aturan yang tidak masuk akal
Baik ada IEP atau tidak, kamu bisa membantu anak mengembangkan strategi belajar yang berhasil dengan menciptakan ruang aman bagi kesejahteraan fisik, mental, dan psikologis mereka. Berikut beberapa caranya:
- Sediakan banyak cara untuk menyerap materi ajar. Beberapa anak suka membaca tenang, yang lain butuh pengalaman langsung, sebagian belajar lebih baik lewat audio dan paham saat materi dibacakan tentang topik. Misalnya, jika ada buku bacaan di kelas, unggah ke text-to-speech seperti Speechify agar siswa yang ingin mendengar bisa mengakses tanpa harus meminta bantuan khusus, yang kadang terasa memalukan bagi siswa neurodivergen.
- Perhatikan bahasa tubuh saat mengajar. Bahasa tubuhmu harus menunjukkan bahwa kamu benar-benar mendengarkan siswa, dan bahwa mereka diterima di kelas. Pastikan siswa merasa boleh bertanya dan mengeksplorasi hal baru.
- Ajarkan strategi advokasi diri ke siswa yang lebih tua. Siswa yang sudah cukup paham perbedaan cara belajarnya bisa mengadvokasi kebutuhannya, baik di kelas khusus maupun umum. Siswa SMP, SMA, dan seterusnya bisa mencoba berbagai akomodasi untuk tahu apa yang paling cocok, lalu memintanya di lingkungan pendidikan mereka.
- Jelaskan ekspektasi sejak awal; konsisten dengan aturan kelas. Anak, terutama yang neurodivergen, berkembang dengan rutinitas dan struktur. Jaga jadwal konsisten dan jelaskan harapan serta konsekuensi jika tidak dipatuhi. Siswa tidak perlu takut dipermalukan atau dikucilkan di lingkungan belajarnya.
- Tanya langsung apa yang bisa membantu. Jika ada siswa yang kesulitan, tanyakan ide akomodasi yang mungkin lebih cocok. Biarkan siswa mengusulkan alat atau sumber baru bila punya gagasan solusi yang belum kamu tawarkan.
2. Sajikan pelajaran dalam bagian-bagian kecil
Anak neurodivergen biasanya cerdas, tapi struktur dan kimia otak mereka membuat sulit fokus pada satu topik terlalu lama. Alih-alih meminggirkan mereka sebagai anak bermasalah seperti dulu, guru bisa membantu dengan menyajikan rencana belajar secara singkat dan mudah dicerna.
Kamu juga bisa membuat aktivitas seru agar siswa memahami konsep lewat banyak cara, seperti bermain peran, debat kelas rutin, ujian bergaya gim, dan cara kreatif lain dalam belajar.
3. Variasikan strategi mengajarmu
Cara efektif menjaga minat anak neurodivergen adalah memvariasi strategi mengajar. Gunakan beragam metode untuk mengajarkan materi yang sama, agar semua gaya belajar bisa menerima informasi. Buat rencana pelajaran khusus untuk anak autis, disleksia, ADHD, dan kebutuhan belajar lain, sehingga tiap anak mendapat materi dalam format yang mudah dipahami.
Berikut beberapa sumber yang membantu guru menciptakan kelas ramah neurodiversitas.
- The Association for Supervision and Curriculum Development (ASCD). ASCD adalah organisasi nirlaba yang menyediakan sumber dan pemberdayaan bagi guru untuk mendukung keunggulan pendidikan.
- Teachers Pay Teachers. TPT adalah marketplace digital tempat guru bisa membeli, menjual, dan mengunduh materi edukasi orisinal dan kustom.
- Speechify Text-to-Speech App. Text-to-Speech atau TTS, membantu siswa disleksia dan neurodivergen lain membaca teks lebih cepat tanpa banyak salah. Sebagai aplikasi dan ekstensi browser, bisa dipakai di hampir semua perangkat online.
- The Neurodiverse Classroom by Victoria Honeybourne. Buku ini sumber cetak komprehensif bagi guru untuk memahami strategi belajar anak neurotipikal dan neurodivergen, serta cara memenuhi kebutuhan mereka di kelas.
- Neurodiversity Celebration Week. NCW merayakan neurodiversitas tiap tahun dan menyediakan banyak sumber digital untuk guru, termasuk rencana pelajaran, penilaian, printout, dan lainnya.
4. Ketahui kelebihan & kekurangan siswamu
Memahami kelebihan, kekurangan, dan perbedaan neurologis siswa sangat penting untuk menciptakan lingkungan pendidikan khusus yang aman dan mampu mengakomodasi kebutuhan beragam siswa neurotipikal maupun neurodivergen. Misalnya, orang autis mungkin kurang keterampilan sosial tapi sangat cerdas dan lihai memecahkan masalah. Anak disleksia mungkin kesulitan membaca, tapi cepat tangkap secara umum.
Sering kali anak neurodivergen merasa karena kelemahan bawaan, mereka tidak cukup baik atau tak mampu mengejar teman-temannya. Padahal, setiap anak punya kelebihan dan kekurangan, baik neurotipikal maupun tidak. Saat guru menciptakan lingkungan yang memberi ruang bagi anak untuk unggul di bidang yang dikuasai, mereka jadi lebih percaya diri untuk mencoba hal yang belum tentu dikuasai.
5. Tetapkan ekspektasi tinggi untuk semua siswa
Guru bisa membantu dengan memberi ekspektasi tinggi untuk tiap siswa. Meski punya perbedaan cara belajar, siswa neurotipikal dan neurodivergen tetap bisa berprestasi sesuai kapasitasnya. Walau ada kelemahan, guru punya tanggung jawab memberi pengayaan yang selaras dengan kelebihan anak. Kepercayaan bahwa siswa bisa meraih prestasi tinggi meski ada hambatan belajar sangat penting untuk mendorong anak melangkah lebih jauh.
Buat target individu yang realistis sesuai batasan yang ada. Coba tetapkan target di batas atas kemampuan, tapi jangan kelewat tinggi. Ekspektasi yang tidak masuk akal hanya membuat anak frustrasi dan hilang semangat karena merasa selalu gagal.
Penutup tentang neurodiversitas di kelas
Mengubah kelas biasa jadi ruang belajar yang ramah neurodiversitas adalah langkah bagus untuk menjangkau semua anak. Ketika anak merasa cukup aman untuk mengeksplorasi belajar dan menemukan cara yang cocok, mereka akan punya bekal belajar sepanjang hayat. Siswa bisa mengembangkan kelebihan dan memperbaiki kekurangan secara bermakna, bukan sekadar hafalan dan nilai ujian.
Mengajar anak autis, dengan ADHD, dan siswa neurodivergen lain sangat memuaskan bagi guru yang mau berupaya membantu anak mencapai potensi terbaiknya. Dengan memahami perbedaan neurologi dan menerapkan konsep neurodiversitas di kelas, guru bisa menciptakan lingkungan belajar di mana semua anak dapat berkembang secara akademik, emosional, dan mental tanpa dibatasi disabilitas intelektual, gangguan mental, atau kebutuhan khusus lain.

