Cara menghentikan kebiasaan tertukar huruf saat menulis
Huruf yang tertukar sering ditemukan pada anak-anak yang sedang belajar menulis. Biasanya, anak kerap bingung membedakan huruf kecil b dan d atau p dan q. Namun, sebagian anak juga bisa kesulitan menulis huruf lain dengan benar.
Angka yang tertukar juga bisa terjadi — misalnya anak menulis angka 5 padahal yang dimaksud 2, atau sebaliknya. Kesalahan dalam menulis huruf, seperti menulis huruf terbalik, masih sangat wajar hingga kelas dua atau paling lambat kelas tiga SD.
Setelah usia tersebut, masalah huruf yang tertukar perlu diperhatikan karena bisa jadi anak mengalami gangguan pemrosesan auditori atau disleksia. Kabar baiknya, guru dan orang tua dapat menerapkan teknik praktis untuk membantu.
Teknik mengatasi huruf tertukar
Dalam mengajarkan membaca dan menulis kepada siswa dengan disleksia, anak yang kurang memiliki kesadaran fonologis, gangguan auditori, atau gangguan visual, proses belajarnya memang berbeda.
Ahli audiologi, terapis wicara dan okupasi, serta guru pendidikan khusus biasanya ikut terlibat. Namun, sebagian besar anak yang sering tertukar huruf tetap dapat mengikuti metode fonik standar untuk belajar huruf. Meski begitu, penting untuk membantu anak mengatasi masalah ini agar terbentuk memori otot menulis yang tepat.
Berikut beberapa cara yang bisa dicoba.
Gunakan poster edukasi
Kemampuan memahami bacaan sangat penting karena membantu anak mengenali huruf yang sering tertukar. Misalnya, gunakan poster cetak b dan d lalu tempelkan di kelas atau di rumah. Hanya dengan dua poster yang ditempatkan secara strategis, hasilnya bisa terasa.
Fokus pada pembentukan huruf di mulut
Beberapa guru menekankan cara bunyi huruf yang sering tertukar dibentuk di mulut. Jelaskan kepada siswa, misalnya saat mengucapkan b, bibir dimulai dari posisi rapat, sedangkan saat mengucapkan d, mulut lebih terbuka.
Ajarkan huruf secara berkelompok
Kebanyakan orang belajar menulis mulai dari huruf A. Namun, banyak pendidik mengajarkan huruf secara berkelompok. Misalnya, memperkenalkan huruf yang bentuknya melingkar lebih dulu. Mengajarkan b dan d secara bersamaan dapat membantu mencegah huruf tertukar.
Gunakan strategi menulis huruf multisensorik
Perencanaan motorik dalam menulis sangat penting untuk membentuk huruf dengan benar. Metode seperti Orton-Gillingham menggunakan pendekatan multisensorik untuk mengatasi huruf tertukar. Penggunaan alat sensori kinestetik seperti busa cukur atau amplas juga dapat meningkatkan kemampuan secara signifikan.
Gunakan mainan dan permainan untuk memperkuat persepsi visual
Guru dan orang tua dapat memakai mainan dan permainan untuk meningkatkan persepsi visual anak. Puzzle alfabet hewan, pixy cubes, puzzle berhitung, dan mainan serupa dapat meningkatkan memori visual, ketetapan bentuk, serta persepsi spasial. Buku dan lembar kerja gambar tersembunyi juga sangat baik untuk melatih kemampuan visual dan fokus.
Gunakan warna berbeda
Bagi anak kecil maupun orang dewasa, warna bisa menjadi petunjuk belajar yang efektif. Guru dapat menggunakan warna berbeda untuk setiap garis pembentuk huruf. Ini membantu siswa melihat perbedaan huruf yang sering tertukar dengan lebih jelas.
Coba menulis di udara
Menulis di udara efektif sekaligus menyenangkan. Minta anak menggunakan tubuh atau jari untuk menulis huruf di udara. Cara ini memberi pengalaman merasakan bentuk huruf melalui gerakan. Kebanyakan teknik untuk mengatasi huruf tertukar berfokus pada visual. Namun, menulis di udara merangsang aspek kinestetik dan bersifat abstrak, sekaligus membangun rasa percaya diri anak.
Bantu siswa mengenal bunyi huruf dengan Speechify
Masalah pembentukan huruf cukup umum, tetapi banyak alat yang dapat membantu. Salah satunya, platform text to speech (TTS) seperti Speechify sangat bermanfaat bagi pelajar muda yang membutuhkan bantuan memahami hubungan huruf dan bunyi.
Dengan Speechify, mereka dapat mendengar teks digital apa pun dibacakan dan memilih kecepatan membaca yang disukai. Teknologi text to speech bukan hanya untuk mendengarkan artikel berita terbaru saat bepergian.
Pada dasarnya, ini adalah alat bantu bagi siapa pun yang membutuhkan dukungan untuk mengatasi tantangan menulis. Speechify dapat digunakan untuk mendengarkan bahan belajar, email, dokumen, dan banyak lagi. Coba Speechify gratis hari ini dan rasakan sendiri kecanggihan aplikasi TTS.
FAQ
Mengapa huruf bisa tertukar?
Ada banyak penyebab huruf tertukar. Misalnya, anak dengan hambatan belajar seperti disleksia, disgrafia, atau gangguan pemrosesan auditori bisa mengalami huruf tertukar. Selain itu, masalah penglihatan, kesulitan motorik, dan ADHD juga dapat menyebabkannya.
Apa contoh kata yang sering tertukar?
Pada tahap belajar menulis, anak kerap tertukar antara huruf kecil b dan d, atau q dan p. Contohnya, mereka bisa salah menulis kata “doorknob.”
Apa hal paling penting yang perlu diingat saat menulis?
Banyak faktor yang membantu anak mengembangkan kemampuan menulis. Pertama, perkembangan motorik kasar dan halus membuat proses menulis lebih efisien. Selain itu, belajar menulis yang tepat sebaiknya bebas stres dan terasa menyenangkan bagi anak.
Apa langkah pertama mengatasi huruf tertukar?
Latihan menulis yang rutin sangat penting untuk mengatasi huruf tertukar. Namun, yang paling utama adalah mencari tahu sumber masalahnya dan memilih teknik yang sesuai untuk tiap siswa. Proses ini bisa memakan waktu, jadi guru dan orang tua perlu bersabar saat membimbing anak yang kesulitan.
Apa saja tanda disleksia?
Tanda disleksia yang paling umum adalah kesulitan mengeja dan membaca, sulit menghubungkan huruf dan bunyi, kurangnya kesadaran fonologis, kesulitan mengenali kata berima sederhana, dan kesulitan belajar bahasa asing. Namun, perlu diingat bahwa gejala disleksia berbeda-beda tergantung usia seseorang.
Apa strategi untuk mengingat ejaan kata?
Banyak strategi yang dapat mendukung kemampuan mengeja, dan asosiasi sangat efektif untuk anak. Misalnya, tempelkan stiker nama benda, lalu tunjukkan kepada anak dan lepaskan stiker tersebut.
Anak kemudian akan mencoba mengingat nama benda itu. Strategi lain meliputi penggunaan mnemonik, visualisasi, memecah kata yang panjang, lalu mengingatnya per bagian.

